Beternak Ayam Philipin

Seorang pria di Gorontalo berhasil mengembangkan usaha peternakan ayam. Bukanlah ayam biasa, melainkan ayam aduan yang kerap digunakan dalam sabung taji. Ia adalah Yahya Mohamad, pria asal Kelurahan Molosifat U, Kecamatan Sipatana, Kota Gorontalo.

Jenis ayam yang diternakan Yahya sendiri adalah ayam sabung berjenis Philipin. Tak main-main, keuntungannya bahkan mencapai hingga 50 juta perbulan.

Bahkan kini katanya, ayam Philipin miliknya itu, telah digemari tidak hanya di Gorontalo, namun juga dari luar darah, bahkan luar pulau Sulawesi, seperti Kalimantan, Papua, dan Sumatra.

Ia menceritakan, dalam memulai bisnis ternak ayam petarung philipin tersebut, ia hanya bermodalkan keberanian. Kata dia, kala itu, jangankan perihal mengenai perawatan, nama jenis-jenis ayam pun ia tidak tahu sama sekali. Namun, karena sebuah tekad yang keras dan kemampuannya melihat sebuah peluang bisnis, akhirnya ia bisa pada posisi yang sekarang.

“Saya berani waktu itu, melihat peluang usaha, saya menangkap peluang usaha ini dengan bermodalkan keberanian, saya tidak tahu apa-apa tentang ayam, baik itu jenisnya cara pemeliharaan, dan lain sebagainya waktu itu saya belum tahu,” ungkap Yahya.

Bermodalkan dana sebesar Rp 70 Juta, pria tersebut menggarap usahanya. Dengan modal itu digunakan untuk membeli ayam pertama senilai Rp 15 Juta. Lalu ayam kedua, Rp 12,5 juta per ekor, sebanyak 12 ekor. Lalu kemudian membeli betinanya enam ekor dengan harga Rp 20 juta.

Meski begitu, saat sudah memiliki ayam-ayam tersebut, ia masih saja belum tahu bagaimana merawat ayam dengan harga belasan juta tersebut.

Karena itu, ia mencari berbagai sumber guna mencari tahu bagaimana cara perawatan ayam tersebut, tak terkecuali berdiskusi dengan para ahli yang menurutnya paham, terkait pengembangan usahanya itu.

Tapi kata pengusaha ini ,dia tidak menyangka usahanya bisa tembus pasar nasional, dengan rata-rata penjualan harian sebanyak 16 ekor, dan baru saja dikirim ke Kalimantan , Sulawesi dan Sumatera.

Rata-rata harga jual per ekor bisa sampai dengan 5juta , tuturnya.

Ia membeberkan, capaian itu pun tidak lepas dari perawatan yang berkualitas. Katanya, untuk operasional pemeliharaan jumlah ayam sebanyak 600 ekor, kata dia paling tinggi berkisar Rp 2 juta per bulan. Menurutnya nominal tersebut masih terbilang sedikit, “Di situ sudah komposisi makannya, multi vitaminnya, kurang lebih sekitar Rp 2 Juta lah. Sudah termasuk mungkin gaji karyawannya dan sebagainya,” ucapnya.

Sementara itu, setiap ekor ayam di kandang miliknya dihargai 2,5 juta hingga 5 juta rupiah, “Untuk harga ayam di sini, dia rentan antara dari Rp 2,5 Juta sampai dengan Rp 5 Juta per ekor. Kalau yang betina rentang antara Rp 2 juta sampai Rp 3 Juta per ekor,” tutupnya